The Wonderland Woman
Ijo Forever, Dora the Explorer, Hello Segno, Lifelong Learner, Spoiler Girl, dan sekarang The Wonderland Woman. Sebuah julukan baru yang kuciptakan khusus untuk seorang sahabat yang sudah beranjak dari ‘girl’ menjadi ‘woman’ ini.
The Wonderland. Visualisasi pertama ketika mendengar kata ini adalah sebuah taman bermain yang super lengkap dengan berbagai wahana yang menyenangkan. Sebelum kita memasuki gerbang Valencia Wonderland (baca: VW Park), mari kita baca terlebih dahulu perenungan saya di suatu waktu.
Seringkali, ketika saya melihat banyak muda mudi yang telah mencapai kesuksesan di usia belia (baca: pesohor), saya berpikir, “kok bisa ya?”. Lalu saya menjawab sendiri, “Oya, karena mereka memang berbakat.” Tapi jawaban itu tidak memuaskan saya. Saya terus memikirkan lebih dalam. “Enak ya, mereka mengecap kesuksesan ketika masih muda.” Kalimat tersebut kemudian berlanjut ke pemikiran yang lain. “Setelah kekayaan, ketenaran, dan mimpi-mimpi yang jadi kenyataan lalu berikutnya apa?”. Apa yang “enak” menurtku waktu itu ternyata masih belum cukup. Masih ada kehidupan berikutnya setelah “enak” tersebut. Ketika menulis perenungan ini, saya mendapatkan sebuah bola lampu di atas kepala yang berbunyi “ting!”. Mimpi yang terlambat menjadi kenyataan itu seringkali memiliki konotasi yang jelek. Namun, dalam pemikiran ini, ternyata mimpi yang datang terlalu cepat itu juga tidak “seenak” itu. Saya mendapati banyak contoh dari muda mudi sukses itu malah memiliki masa dewasa yang kacau balau setelah mengecap kesuksesan mereka yang prematur.
Perenungan ini berkaitan erat dengan pribadi yang saya bahas di tulisan ini. Valencia Leonata memiliki se-auditorium (karena lebih besar dari segudang) bakat yang dimimpikan oleh banyak orang. Ehhm...saya harus membuka gulungan kertas saya untuk membacanya satu-satu. Berikut daftarnya: bakat menyanyi, menciptakan lagu, memainkan alat musik (gitar, piano, keyboard, saxophone, ukulele), menulis, basket, lari, bersepeda, berbisnis (ya, ini juga termasuk bakat), sampai bakat menyetir di keruwetan lalu lintas Indonesia (mulai dari menaklukan kota termacet nomor satu di dunia sampai hutan rimba truk jumbo di Margomulyo). Bakat tersebut seharusnya membawa dia kepada salah satu muda mudi sukses seperti yang telah saya singgung di paragraf sebelumnya. Bisa saja saat ini dia sedang berada di belakang panggung, menunggu untuk memainkan lagu hitsnya di hadapan ribuan penggemar. Bisa saja saat ini dia sedang menandatangani buku karyanya yang sedang disodorkan oleh pembacanya di sebuah acara bedah buku. Dan bisa saja saat ini dia sedang hang-out bersama teman-teman pesohor yang sama-sama muda, kaya, dan tenar. Namun dia tidak ada di sana. Saat ini, dia ada bersama teman-teman non-pesohor yang menjalani kehidupan normal. Memakai kaos casual, celana pendek, dan sandal japit di kesehariannya. Dia tidak peduli model rambut terbaru apa yang sedang trend, pokoknya nyaman dan tidak mengganggu yowesss!. Pertanyaan lagi, “Kok bisa?”. Saya tahu jawabannya. “She doesn't give a crap about all of that!”
Dari pemilik sah label “Lifelong Learner” ini, saya belajar bahwa kita tidak harus memiliki alasan atau target untuk menikmati suatu hal. Kadangkala, kita hanya perlu menikmati, merasakan, dan mengalami sesuatu hal dengan seluruh panca indra yang ada titik. Jadi, kalau ada yang masih mau iri pada bakat yang dimiliki Valen, maka mereka salah alamat. Yang seharusnya mereka iri adalah bagaimana dia bisa menikmati semua bakatnya itu tanpa merasa ini itu.
Okay, balik lagi ke VW Park. Sekarang saya sudah berada di depan gerbang sebuah Wonderland yang seru. Ketika masuk, saya harus menyerahkan tiket masuk kepada petugas. Anda tidak harus membeli tiket untuk masuk ke VW Park. Hal ini disebabkan karena Valen adalah sebuah buku terbuka yang tidak pernah membeda-bedakan dengan siapa dia berteman. Lihat saja friends listnya di facebook. Dia terdaftar dalam berbagai macam gengs: geng SMA, geng Fikom, geng Pemuji, geng Jakarta, geng Prasmul, geng Family Business, geng Bendhega, dan yang paling hebat, geng Alayers. Dan mereka semua bisa mengenalnya dengan mudah, entah itu dari mendengar cerita hidupnya atau membaca blognya. Jadi sispapun yang mau order tiket untuk masuk ke VW Park, Anda bisa memesannya ke agen-agen terdekat. Saya termasuk salah satu agennya.
Ada apa saja sih di VW Park?.
Banyak.
Namun di sini, saya akan mendeskripsikan wahana-wahana favorit saya saja.
- Wahana Dancing Mistery
Mistery di sini bukan berarti misteri secara harafiah namun ke sebuah pribadi. Saya menyukai wahana ini karena di sini, saya akan mendengarkan sebuah lagu ciptaannya yang selalu ada di folder “Jak’s Fave Songs.” Bahkan sampai saat ini, saya dan istri saya secara periodik selalu mendengarkan lagu ini di mobil. Nada lagunya enak dan menyenangkan walau kisah di balik lagu itu tidak 100% menyenangkan. Di antara beberapa lagu ciptaannya, single ini merupakan salah satu masterpiece-nya.
- Wahana Spoiler Girl
Wahana ini semestinya tidak seru tapi saya tetap menyukainya. Valen adalah pribadi yang murah hati. Dia care pada sahabat-sahabatnya sehingga dia sering memberikan surprise pada mereka di hari-hari spesial. Namun seringkali pula, surprise tersebut sudah dibocokan dirinya sendiri sebelum hari H. Ya, walaupun sudah tidak seru, tapi saya tetap mendapatkan hadiah. Jadi saya memutuskan untuk menyukai wahana ini hahahaha.
- Wahana Lifelong Learner
Bukan hanya saya saja, tapi banyak pengunjung yang menyukai wahana ini. Di sini Anda bisa membaca tulisan-tulisan inspirasional karyanya yang begitu down to earth, namun memiliki makna yang dalam. Selain di blog pribadinya, tulisan-tulisannya diterbitkan setiap bulan dalam sebuah majalah yang hits banget, MFC Newz.
- Wahana Bendhega
Ini salah satu wahana yang baru saja di launching dan seru banget kalau Anda ada di sini. Anda bisa bergabung menjadi member tetap di sini atau hanya puas melihat foto-fotonya saja (ehm..saya yang kedua). Di Bendhega, Anda akan dibawa menikmati pengalaman bersama teman-temannya untuk menjelajahi alam bebas pegunungan di Indonesia.
- Wahana Hello Segno
Hello Segno adalah sebuah prinsip hidup yang diciptakannya untuk menikmati keseluruhan wahana-wahana mengasyikkan dalam hidupnya. Selain orangnya, Hello Segno ini telah diaplikasikan ke blog pribadi dan bahkan kamar pribadinya. Di Wahan ini, Anda akan dibawa masuk ke kamar pribadinya yang desain interiornya bisa masuk ke “Top 10 Awesome Bedroom” di media manapun. Seperti orangnya yang open, kamarnya juga open untuk sahabat-sahabatnya (tidak semua orang tentunya, Anda memerlukan tiket VIP untuk masuk ke wahana ini). Secara reguler kamar ini dipakai sebagai ajang pertemuan salah satu gengnya, Alayers.
Masih banyak Wahana yang lain. Anda bisa mengalami sendiri betapa randomnya jenis-jenis wahana yang ada VW Park. Miliki tiketnya dan silakan menjelajahi VW Park.
Setelah saya berada di pintu keluar VW Park, saya berhenti sejenak dan tersenyum. Ada rasa syukur karena saya adalah salah satu dari pemilik tiket terusan. Kapan saja saya bisa balik ke sini dan saya mungkin tidak pernah bosan. Sejak pertama kali mengunjungi VW Park kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, saya melihat betapa VW Park ini menjadi semakin seru, menyenangkan, dan established. Saya kenal dengan Arsitek pembuat VW Park ini sehingga saya tahu apa tujuan dari didirikannya VW Park ini. Di sini, saya berbicara pada Sang Arsitek, jangan berhenti untuk membangun wahana-wahana baru dalam VW Park ini, karena wahana ini telah menjadi berkat untuk para pengunjungnya. Pengunjung lama ada yang pergi, ada juga yang menetap. Namun satu hal yang pasti, akan semakin banyak pengunjung baru yang datang dan merasakan hal yang kurang lebih sama dengan saya.
Long live, the Wonderland Woman. So your theme park can be an inspiration for many people and when they ask you “Who is the Maker of this Wonderland?”. Don’t hesitate to answer them with vociferously voice, “His name is Jesus!” (jak)