Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati!

Sejak tahun lalu, saya sudah berkomitmen untuk menambah wawasan saya dengan membaca buku. Sebuah langkah besar untuk seorang yang menghabiskan masa kecilnya dengan membaca komik Jepang yang kaya akan gambar-gambar. Membaca buku yang hanya berisi tulisan melulu memang butuh perjuangan untuk pembaca pemula seperti saya. Namun dengan keinginan yang kuat untuk menjadi lebih pintar, saya memaksa untuk membaca buku walau hanya berupa tulisan saja. Saya ingin belajar. Gayung bersambut karena istri saya adalah seorang pembaca tulen. Salah satu tempat kencan favorit kami dari dulu adalah toko buku. Minimal sebulan sekali, kami pergi ke toko buku untuk melihat-lihat dan kemudian membeli apabila ada yang menarik. Sampai bulan ketiga di tahun ini, baru dua buku yang saya beli dan sudah saya baca. Pertama adalah 101 Creative Notes oleh Yoris Sebastian dan yang kedua, Kreatif Sampai Mati! oleh Wahyu Aditya. 

Buku pertama bukanlah sebuah kejutan bagi saya karena saya telah membaca buku Yoris Sebastian yang pertama tahun lalu, Creative Junkies. Isi-nya kurang lebih sama. Yang spesial adalah buku kedua. Saya ingin bertemu Wahyu Aditya dan berkata padanya langsung, "Well done! your book have slapped me in the face!". Saya yakin wajahnya pasti bengong ketika mendengar itu. Ya, beberapa waktu yang lalu saya  terkena penyakit bernama motivation block, sebuah jenis yang sama dengan penyakit terkenal para penulis. Dan ketika membaca buku ini, saya seperti ditampar. Buku ini, selain bagus dan kreatif luar biasa secara visual, memberikan sebuah injeksi semangat yang maksimal pada saya. Saya melihat seorang pekerja kreatif yang loyal terhadap panggilannya sampai dia mencapai banyak keberhasilan, dan tentunya pada akhirnya dia menginspirasi banyak orang, termasuk saya. Buku yang dia tulis (dan gambar) adalah buktinya. Salah satu kalimat yang berkata: "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang" membuat saya merasa tidak nyaman dengan zona nyaman saya. Buku itu tidak hanya memberikan wawasan kreatif pada saya, namun juga membangkitkan saya untuk kembali berkarya bagi orang lain. Visi untuk menginspirasi banyak orang lewat media kembali bangkit setelah saya menutup cover belakang buku ini. 

Thank You Mas Waditya yang telah berkomitmen untuk menyelesaikan buku hebat ini sehingga sampai ke tangan banyak orang, termasuk saya. Thank You Jesus, karena saya menemukan buku ini untuk memotivasi saya untuk kembali berkarya. Lahirnya kembali blog pribadi saya adalah start-nya. What's next?